Senin, 22 Mei 2017

Museum Alquran Raksasa Tempat Wisata Religi Palembang

Museum Alquran Raksasa Tempat Wisata Religi Palembang - Palembang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tak hanya terkenal dengan “pempek” sebagai makanan khasnya. Di kota yang pernah menjadi pusat peradaban Kerajaan Sriwijaya ini juga terdapat banyak objek wisata bernilai tinggi.

Salah satunya adalah Museum Alquran Raksasa yang berlokasi di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Bukan tanpa alasan, objek wisata religi ini disebut Alquran Wisata. Sebab, Alquran tersebut dipahat di permukaan kayu tembesu berukuran panjang 177 centimeter dengan lebar 140 centimeter dan ketebalan 2,5 centimeter.

Mahakarya asli Wong Kito itu, tidak hanya menjadi alternatif tujuan wisata warga lokal. Bahkan turis dari mancanegara, terutama dari negara-negara Arab banyak yang sengaja berkunjung untuk membuktikan sendiri karya seni yang tiada duanya itu.

Museum Alquran Raksasa, Tempat Wisata Religi Palembang

Bagi Anda yang berasal dari luar Kota Palembang, akses menuju lokasi museum tersebut bisa dimulai dari pendaratan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang.

Selanjutnya, pilihan ada pada Anda, mau menggunakan taksi atau menumpang alat transportasi umum kebanggaan wong Palembang, yakni Trans Musi.

Kalau menggunakan taksi, mungkin Anda perlu mengeluarkan uang sekitar Rp 150 ribu sebagai ongkos dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Tapi kalau menggunakan Trans Musi cukup membayar Rp 5.500. Caranya, di bandara naik Trans Musi Koridor 7 via Soekarno Hatta. Selanjutnya turun di Halte Jambatan Musi II.Nah, dari sini perjalanan dilanjutkan dengan menumpang angkot jurusan Gandus tempat museum berada.

Begitu tiba di museum Alquran Raksasa, pengunjung hanya cukup membayar Rp 5 ribu per orang untuk masuk. Di sana ada petugas yang siap mendampingi Anda jika diperlukan.

Tak hanya melihat kepingan Alquran yang disusun pada bangunan bertingkat, Anda juga akan mendapatkan penjelasan seputar Alquran tersebut.

Bagi yang menginginkan oleh-oleh untuk dibawa pulang, jangan khawatir. Di lokasi Alquran Raksasa ada yang jual makanan, pakaian, tasbih, Alquran dan lain-lain.

Mau foto-foto tapi lupa bawa kamera? Jangan risau. Pengelola museum sudah menyiapkan fotografer untuk mengabadikan momen penting Anda. Cukup membayar Rp 10 ribu sudah termasuk foto jadinya.

Sekilas Tentang Alquran Raksasa

Alquran Raksasa adalah hasil karya seni anak bangsa bernama Sofwatillah Mohzaib. Pria satu ini memang dikenal punya minat yang besar terhadap seni kaligrafi.

Bahkan wakil rakyat di DPR RI ini menjadi salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap Masjid Agung Palembang.

Suatu hari, Opat sapaan akrabnya, baru saja terlelap tidur setelah selesai mengukir kaligrafi ornamen bagian pintu Masjid Agung Palembang. Dalam tidurnya ia bermimpi. Mimpi tersebut mengisyaratkan dirinya untuk membuat alquran terbesar di dunia.

Dengan berbagai pertimbangan, disertai niat dan tekat yang bulat, ia pun mewujudkan mimpinya itu dengan mengawalinya dari surat Alfatiha.

Lalu kemudian satu keping potongan Alquraan tersebut dipamerkannya di masjid tersebut, dengan harapan ada donatur yang bersedia untuk mendukung niatnya.

“Dari isyarat melalui mimpi itulah Pak Sofwatillah, mulai mengagas pembuatan Alquran Raksasa ini,” ujar Sarkoni, salah seorang pengelola museum Alquraan Raksasa itu, Minggu (17/5/2015).

Gagasan pembuatan Alquran itu tercetus pada tahun 2002 silam, setelah Opat merampungkan pemasangan kaligrafi pintu dan ornamen Masjid Agung Palembang.

Dari sana juga inspirasi membuat mushaf Alquran dengan ornamen khas Palembang.

Satu keping mushaf Alquraan surat Alfatiha ditunjukkan kepada salah seorang toko masyarakat Palembang Marzkui Ali yang pernah menjadi Ketua DPR RI. Tentu saja dengan harapan Marzuki Ali mengajak dermawan dan relasinya mensuport pembuatan alquran tersebut.

Tepat pada 1 Muharram 1423 atau 15 Maret 2002 Alquran tersebut dipamerkan di bazar pada peringatan Tahun Baru Islam. Namun resmi diluncurkan pada 14 Mei 2009 di Masjid Agung Palembang.

Proses pembuatannya dilakukan di kediaman Opat, yakni di Jalan Pangeran Sido Ing Lautan, Lorong Budiman, No 1.009, Kelurahaan 35 Ilir, Palembang.

“Kenapa kayu tembesu? Karena kayu jenis ini banyak ditemukan di kawasan Sumsel. Selain itu kayu jenis ini kuat,” kata Sarkoni.

Namun pembuatan Alquran Raksasa ini bukan tanpa kendala. Target awal penyelesaiannya yang ditargetkan empat tahun, molor hingga tujuh tahun. Karena terkendala dana dan bahan baku tembesu.

“Awalnya harga tembesu hanya berkisar Rp2 juta per kubik berlahan naik Rp 7 juta bahkan Rp 10 juta,” katanya.

Namun berkat aliran dana donatur, pembuatan Alquran bisa dilanjutkan. Dalam pembuatan sendiri Alquran tersebut,melibatkan sebanyak 35 orang. Lima orang bertugas sebagai pengukir, selebihnya sebagai pemotong dan sebagainya.

Proses pembuatannya juga tidak mudah. Sebelum diukir di atas papan, ayat Alquran terlebih dahulu di tulis di atas kertas karton. Lalu tulisan ini dijiplak ke dalam kertas minyak.

Setelah semua ayat tertulis, tim koreksi memeriksa tulisan tersebut. Jika sudah tulisannya sudah benar maka tim pemahat dipersilahkan untuk memahat di atas papan.

Sebanyak 315 papan yang menghabiskan kayu hingga 40 kubik Alquran Raksasa bisa diselesaikan. Total dana yang dihabiskan tidak kurang dari Rp 1,2 miliar.

Rumah Limas, Rumah Adat Palembang yang Ditinggalkan

Rumah adalah kebutuhan dasar bagi setiap masyarakat. Rumah memiliki fungsi penting tidak hanya sebagai sarana dalam kehidupan. Kumpulan rumah menjadi tempat pemukiman yang dapat menciptakan interaksi antara masyarakat dan alam sekitar.

Rumah yang dibuat oleh leluhur dan menggambarkan kebudayaan masyarakat disebut sebagai rumah adat. Rumah adat Provinsi Sumatera Selatan yang paling terkenal adalah Rumah Limas. Rumah ini berbentuk seperti limas. Bangunan di dalamnya bertingkat-tingkat. Tingkat-tingkat tersebut oleh masyarakat Palembang disebut kijing.

Bagi tamu yang datang ke Rumah Limas hanya akan diterima di teras atau lantai dua saja loh.

Rumah limas ini mempunyai luas sekitar 400 sampai 1000 meter persegi, sangat luas bukan?

Arsitektur Rumah Limas

Dinding, lantai serta pintu dibuat dari kayu tembesu. Bagian tiang rumah digunakan kayu yang tahan air yaitu kayu unglen. Bagian rangka dari Rumah Limas ini dibuat dari kayu seru. Jenis kayu ini sudah sulit untuk ditemui. Kayu seru ini tidak pernah digunakan untuk bagian lantai karena kayu ini dilarang untuk diinjak-injak menurut tradisi leluhur.

Tingkatan yang ada pada Rumah Limas menandakan garis keturunan asli masyarakat di kota Palembang.

Ada tiga jenis garis keturunan masyarakat Palembang, yaitu : keturunan kiagus, kemas atau massagus dan raden. Golongan terendah yaitu keturunan kiagus dan selanjutnya sampai yang tertinggi adalah golongan raden.

Pintu dan dinding Rumah Limas ini dihiasi ornamen ukiran. Simbol ukiran pada Rumah Limas memiliki arti tertentu. Ornamen simbar atau tanduk berada pada bagian atas atap. Simbar ini melambangkan mahkota yang bermakna keagungan dan kerukunan Rumah Limas.  Di dalam ruang tamu atau bagian tengah kita dapat melihat monumen keluarga atau bingkai yang memiliki ukiran khas Kerajaan Sriwijaya. Bingkai ini menyatu dengan dinding dan berukuran 2,5 meter.

Terdapat dua kamar dengan bingkai emas dengan ukiran yang khusus. Ternyata dua kamar ini memiliki makna dimana hanya boleh ditempati oleh almarhum kedua orang tuanya dan bagi penerima amanat untuk menjaga rumah.

Tahap Pembangunan Rumah Limas

Untuk membangun Rumah Limas melalui dua tahap. Tahapannya yaitu persiapan dan tahapan pembangunan.

Tahapan persiapan melalaui musyawarah dan pengadaan bahan. Tahapan pembangunan yaitu berfokus pada bagian bawah, tengah dan atas. Pembangunan Rumah Limas ini menggambarkan masyarakat Palembang yang memiliki nilai budaya, sosial dan religius.

Pembangunan rumah Limas dipilih hari senin. Ada ritual khusus ketika ingin membangun Rumah Limas ini. Jumlah anak tangga pada Rumah Limas ini pun harus ganjil. Jumlah ganjil diyakini akan memberikan keberkahan sedangkan jumlah genap sebaliknya.

Filosofi Rumah Limas

Rumah Limas menggambarkan masyarakat Palembnag yang menjunjung tinggi adat-adat yang berlaku di masyarakat.

Kita bisa lihat bentuk rumah yang luas. Luasnya Rumah Limas ini mencerminkan gambaran kondisi masyarakat Palembang yang selalu mengutamakan kebersamaan dalam bentuk gotong royong.

Bentuk ruang dan lantai yang bertingkat ini menggambarkan bahwa masyrakat Palembang memiliki aturan sosial yang tersusun rapi.

Keberadaannya mulai terlupakan

Namun lambat laun keberadaan Rumah Limas mulai terlupakan. Rumah Limas semakin susah untuk ditemui. Bahan baku untuk membuat Rumah Limas ini semakin susah ditemui dan menyebabkan bahan baku ini semakin mahal. Hal ini sangat mengancam keberadaan Rumah Limas.

Pembangunan untuk mengarahkan kota Palembang bercirikan kota modern semakin pesat dilakukan. Pemerintah daerah harus ikut campur agar keberadaan Rumah Limas masih bisa dirasakan ke generasi berikutnya. Peraturan pemerintah juga harus diurus dengan serius  untuk melestarikan Rumah Limas Palembang. Saya dan temen-temen dari kota purwokerto ingin sekali kesini.

Selasa, 31 Januari 2017

Sejarah Buah Tin

Sejarah Buah Tin

Sejarah Buah Tin


Sudah banyak para ahli sejarah yang masih ragu dengan kenyataan dari asal-usul buah Tin yang asli. Tetapi dari sebagian mayoritas dari para ahli sejarah sependapat bila buah tin ini asalnya dari wilayah Timur Tengah. Banyak literatur sejarah yang mengungkapkan bahwa buah tin itu berasal dari Arab Saudi yang kehadirannya sudah lebih dari ribuan tahun lalu sebelum Masehi.

dengan semakin berkembangnya perdagangan pada masa yang lalau dan semakin meningkatnya kegiatan pelayaran, sehingga buah tin lambat laun dikenalkan oleh para pedagang dari Timur Tengah di daerah Eropa serta setelah itu mulai dikembangkan untuk dikonsumsi rakyat dan menjadi komoditas yang handal dikarenakan nilainya yang mahal. Selain hal itu dikarenakan mempunyai rasa yang lezat, tekstur dari buah tin ini sangat enak dan manfaat buah tin yang begitu tinggi, buah tin telah menjadi salah satu barang yang diincar dikarenakan keistimewaan buah tin yang Cuma di peruntukkan untuk kelompok atas seperti para raja, keluarga kerajaan, dan bangsawan yang memimpin.
asal-usul buah Tin dan juga penyebarannya yang memakan waktu lumayan banyak dan sepanjang ribuan tahun adalah keistimewaan dari buah ini, dimana tak banyak jenis buah-buahan yang asalnya kayak buah tin ini.